Saturday, December 18, 2010

Otokritik Dunia Pesantren (Resensi)

Ajaran islam masuk ke asia, Indonesia khususnya, melalui bangsa india dan persia. Kedua negara ini mempunyai filosofis mitologi yang sangat tinggi. Al-Ghozali dan Suhrawardi misalnya. Pengaruh kedua tokoh ini sangat besar dan memberikan warna dominan atas pemahaman ajaran Islam terutama di Indonesia. Negeri yang dikenal –meminjam istilahnya Ach.Baedowi-sebagai Zamrud Katulistiwa  sudah puluhan tahun lamanya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Maka corak keberagamaan yang tumbuh lebih bersifat mistik.

Pemahaman keislaman yang ditransformasikan oleh otoritas agamawan seperti para Wali (wali songo yang dikultuskan) menjadi titik tolak ritual sebagian umat islam Indonesia yang masih dibudayakan hingga sekarang. Pengaruhnya tidak hanya pada tingkatan keyakinan an sich. Akan tetapi merebak dalam dalam aktualisasi keseharian. Sebagai contoh, arabisasi nama-nama yang dulunya bahasa jawa, simbol-simbol pakaian islami dan lain sebagainya sehingga melahirkan akulturasi budaya yang bersifat toleran. Pada tingkatan tertentu merupakan sinkretisme antara ajaran Islam dan kepercayaan tradisi lokal.

Lembaga pengajaran imu-ilmu agama yang diidentikan Pondok Pesantren mempunyai andil besar dalam pembentukan generasi muda islami. Terkadang masih ada dikotomi keilmuan antara ilmu agama dan ilmu umum. Sistem doktriner yang diterapkan dibeberapa pondok pesantren menjadikan para kiyai cenderung bebas memaksa kehendak santri-santrinya.

Chabib Mustofa (penulis buku ini) telah melakukan suatu terobosan, melontarkan berbagi kritikan atas pemahaman keagamaan yang sudah mapan dimasyarakat. Dengan bahasa penyampaian yang halus namun menyindir hingga menyentuh ranah keyakinan. Paradigma masyarakat yang cenderung berlebihan mengultuskan para kiyai, ulama, syekh atau gus dan pemangku agama lainnya hingga muncul satu pemahaman bahwa syekh atau habaib mempunyai kedudukan yang lebih di sisi Tuhan dibanding orang biasa.

 Tetkala Quraisy peran utama dalam Novel “Spesies Santri” mengejek pada Yek Amang yang notabennya tidak pernah sholat, wirid atau ibadah yang telah disyariatkan Islam. Bukannya pembelaan atau paling tidak pembenaran atas apa yang dilakukan Qusyairi. Malah Ia dimarahi oleh Abah dan kedua orang tuanya. Karena diketahui Yek Amang adalah putranya Syekh juga keturunan Habib (kekasih Allah), yang konon nasabnya sampai pada Nabi. (hal-23)

“Seburuk-buruknya kelakuan ketrunan kiyai sama derajatnya dengan perbuatan baik orang biasa”. Paradigma semacam ini masih hinggap di sebagian masyarakat Islam. Padahal jelas ajaran Islam tidak memandang keduduukan dan status manusia kecuali kadar keimanan dan ketakwaannya. Ada satu istilah yang menarik untuk jadi bahan renungan. 
Diakhir tulisannya Chabib menulis “ Aku telah tertipu dengan pandangan mata dan kepandirian hatiku memahami realitas. Kuanggap yang terlihat putih pasti “putih”. Ku klaim yang buruk rupa pasti “buruk hati”. (hal-260). Bisa difahami bahwa tidak semua yang ber-style islami lebih sholeh dan begitupun sebaliknya tidak semua yang berpenampilan preman dan gaul adalah jahat.  Novel ini memberikan pencerahan baru dan sangat menggugah bagi siapa saja yang membacanya.
Judu Buku    : Spesies Santri
Penulis          : Chabib Mustofa
Penerbit        : Kanisius
Tahun Terbit : Cetakan I, 2009
Isi:                : 260 Halaman

No comments:

Post a Comment

Teriakasih telah berkunjung

Post a Comment