Sunday, August 25, 2013

Tari Golek Ayun


Sejunlah siswi SMK di Gunungkidul tengah menunjukan tari Golek Ayun, Sabtu, 14, Agustus 2013 di Bangsal Sewoko Projo Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Tari Golek Ayun, salah satu tarian khas Yogyakarta. Golek Ayun diartikan sebagai sosok wanita remaja menginjak usia dewasa yang suka bersolek dan mencuri perhatian.

Sunday, January 20, 2013

Ada Kambing Makan Sampah

Jika kambing atau domba pada umumnya makan rumput dan daun-daunan
hijau, namun tidak demikian dengan kambing milik Bambang Setiana, 42,
di Dusun Karang Tengah III, Desa Karang Tengah, Kecamatan Wonosari,
Gunungkidul. Puluhan kambing Bambang justru diberi pakan limbah
sampah.

Tentu saja apa yang dilakukan Bambang sangat membantu disaat musim
kemarau panjang yang sering kali melanda wilayah Gunungkidul.
Alih-alih menemukan rumput hijau, bila sudah kekeringan air pun sulit
didapat. Kini dia tidak lagi repot mencari rumput, karena limbah
sampah berserakan di sekitar rumahnya. Semua daun kering yang jatuh
dari pohon tidak lagi dibakar melainkan dipungutnya kemudian diolah
menjadi pakan kambing.

Thursday, March 8, 2012

Perusahaan Otobus Tak Terkontrol


Rentetan peristiwa kecelakaan kendaraan yang merenggut banyak nyawa telah mencoreng wajah pertransportasian di Negara ini. Di saat Negara lain sedang sibuk mengembangkan alat transportasi massa terhebat dan tercepat, namun kita menjaga kenyamanan penumpang saja masih belum bisa. Boro-boro nyaman, naik kendaraan umum kita seolah mendekati sakaratul maut.

Saturday, January 28, 2012

Impian Jadi TKI Pupus Sudah

Jumat Maryadi, 42, warga Sumberagung, Jetis, Bantul duduk lesu di depan gedung Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIY, Selasa (24/1) kemarin. Aura kesedihan sangat tampak di wajah ayah 2 anak ini. Betapa tidak, harapannya untuk bekerja di luar negeri malah menjadi korban penipuan perusahaan jasa penualur TKI di PT.Asfiz Langgeng Abadi.
Uang Rp15,5 juta yang telah ia bayarkan pada Agustus 2011 lalu hilang sia-sia. Padahal untuk mengumpulkan uang sebanyak itu ia harus banting tulang mencari pinjaman kepada tetangga dan saudara di desanya. Sebab, gaji bulanannuya sebagai karyawan di salah satu usaha kecil di Jl.Parangteritis, Sewon, Bantul tidak seberapa. Hanya cukup untuk menghidupi anak dan istri.
Maka ketika ada salah seorang dari PT.Asfiz Langgeng Abadi yang menawarkan untuk bekerja di Australia sebagai tukang kebun dengan gaji 20 dolar Australia per jam, dia sangat antusias. Awalnya Maryadi sempat ragu namun berkat dukungan istri untuk merubah keadaan ekonomi keluarga ia meyakinkan untuk berangkat.